Sahara

Timor Leste Akhirnya Buka Ruang untuk Otonomi Maroko di Sahara

KOMENTAR
post image
Presiden Timor Leste, Ramos Horta.

SMC. Presiden Timor Leste sekaligus peraih Nobel Perdamaian, José Ramos-Horta, menarik perhatian luas dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 di New York. Dalam dinamika diplomasi internasional, sikap yang disampaikan oleh pemimpin negara Asia Tenggara tersebut dinilai membawa angin segar sekaligus perubahan penting terkait polemik sengketa Sahara Barat.

Timor Leste, yang selama ini dikenal sebagai salah satu mitra dekat Front Polisario di luar benua Afrika, secara terbuka mulai membuka ruang bagi Rencana Otonomi Maroko untuk wilayah Sahara. Meskipun belum secara penuh mencabut pengakuan terhadap entitas SADR (Sahrawi Arab Democratic Republic), langkah dan sinyal politik yang ditunjukkan oleh Ramos-Horta ini dibaca oleh para pengamat internasional sebagai evolusi sikap yang signifikan.

"Mengenai Sahara Barat, kami menyambut baik proposal Maroko dan resolusi Dewan Keamanan yang baru-baru ini sebagai peluang untuk dialog. Seperti dalam situasi apa pun yang sifatnya demikian, masyarakat yang berkepentingan secara langsung harus dikonsultasikan mengenai status masa depan mereka. Kami berharap penyelesaian komprehensif yang adil dapat dicapai antara pihak berwenang Maroko dan Front Polisario," ujarnya.

Pernyataan Ramos-Horta di panggung PBB ini memperkuat tren global yang kian condong mendukung proposal otonomi yang diusulkan oleh Kerajaan Maroko. Dalam beberapa waktu terakhir, dukungan internasional terus mengalir deras seiring dengan dorongan Dewan Keamanan PBB—terutama melalui adopsi Resolusi 2797—yang memandang solusi otonomi di bawah kedaulatan Maroko sebagai jalur paling realistis dan layak untuk mengakhiri sengketa yang telah berlarut-larut.

Sejumlah negara di berbagai kawasan dunia secara konsisten telah menyatakan dukungannya terhadap integritas teritorial Maroko. Di panggung Sidang Umum PBB, negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Burkina Faso, Armenia, hingga sejumlah negara di Amerika Latin dan Karibia turut memperkuat posisi serupa, menegaskan pentingnya proses politik berbasis kompromi dan pragmatisme.

Sebagai seorang tokoh peraih Nobel yang negaranya memiliki pengalaman historis mendalam dalam proses dekolonisasi dan perjuangan kemerdekaan, pandangan Ramos-Horta kerap disimak oleh komunitas internasional. Dalam berbagai forum dan kesempatan diplomasi, ia menekankan pentingnya dialog konstruktif serta penyelesaian konflik secara damai guna menghentikan penderitaan kemanusiaan yang berkepanjangan di kawasan terkait.

Langkah Timor Leste ini sekaligus menjadi pukulan telak bagi kubu separatis Polisario dan negara pendukung utamanya, Aljazair, yang belakangan dinilai semakin terisolasi di tengah arus utama komunitas internasional yang kian kompak mendukung kerangka resolusi damai yang dimediasi oleh PBB.

Dengan semakin kuatnya konsensus global ini, tekanan terhadap pihak-pihak yang dianggap menghambat perundingan damai terus meningkat, membuka jalan baru menuju stabilitas jangka panjang di kawasan Sahara.

Foto Lainnya

Dukungan PBB untuk Sahara Maroko Terus Mengalir, Aljazair Makin Terdesak

Sebelumnya

Penyelewengan Bantuan Kemanusiaan di Kamp Tindouf Terungkap

Berikutnya

Artikel Olahraga