Politik Global

PM Spanyol Tuding Jaringan Israel dan Rusia Jadi Dalang Disinformasi Eksodus Migran ke Ceuta

KOMENTAR
post image
Salah satu foto yang memperlihatkan migrasi ilegal massal yang terjadi pada 30–31 Juli 2026. Tak kurang dari 72.000 orang memasuki wilayah Ceuta, Spanyol.

SMC. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menuding adanya indikasi keterlibatan aktor dari Israel dan Rusia dalam menyebarkan disinformasi terkait kebijakan migrasi Spanyol. Kampanye informasi palsu tersebut disinyalir menjadi pemicu utama terjadinya gelombang eksodus migran besar-besaran ke wilayah eksklave Spanyol di Afrika Utara, Ceuta.

Peristiwa migrasi ilegal massal yang terjadi pada 30–31 Juli 2026 itu tercatat melibatkan lebih dari 72.000 orang. Angka tersebut menjadikan insiden tersebut sebagai arus penyeberangan lintas batas terbesar yang pernah terjadi di salah satu perbatasan darat Uni Eropa dengan benua Afrika.

Tragedi kemanusiaan pun tak terelakkan di balik pergerakan massal tersebut. Menurut data yang dilaporkan otoritas setempat, sedikitnya 100 orang dinyatakan tewas saat berupaya menembus pengamanan perbatasan yang memisahkan daratan Maroko dengan wilayah Spanyol tersebut.

Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh stasiun radio SER, Sanchez secara tegas membantah berbagai spekulasi yang menuduh Maroko berada di balik insiden ini. Ia menegaskan bahwa pemerintahannya sama sekali tidak menemukan bukti atas keterlibatan otoritas Rabat dalam gelombang kedatangan migran tersebut.

Otoritas Spanyol sebelumnya mendeteksi maraknya peredaran video hoaks di sejumlah platform media sosial, seperti TikTok dan Instagram. Konten-konten tersebut menyebarkan klaim palsu bahwa para migran yang sukses mencapai pesisir Ceuta melalui jalur laut otomatis akan diberi izin tinggal resmi di Spanyol.

Berdasarkan kajian dari European External Action Service (EEAS), Sanchez membeberkan bahwa jaringan dari Rusia dan Israel teridentifikasi aktif menyebarluaskan narasi menyesatkan itu bersama kelompok-kelompok sayap kanan. Propaganda ini sengaja dibangun untuk memancing kerumunan massa bergerak menuju perbatasan.

Menurut Sanchez, motif di balik kampanye disinformasi ini berakar pada ketidakpuasan diplomatik terhadap sikap Spanyol di panggung internasional. Kedua negara tersebut dinilai sengaja memanfaatkan krisis Ceuta untuk menekan Madrid akibat kebijakan politik luar negerinya terkait konflik di Ukraina dan Gaza.

Dampak dari gelombang eksodus tersebut masih menyisakan persoalan pelik di Ceuta, di mana sekitar 5.000 migran dan pencari suaka masih tertahan di sana. Situasi ini memicu demonstrasi harian dari warga lokal yang memprotes lambannya penanganan pemerintah, hingga memicu insiden serangan terhadap kamp-kamp darurat di Pantai El Trampolin.

Guna menstabilkan kondisi dan memulihkan roda perekonomian setempat, Sanchez mengumumkan alokasi dana darurat tambahan senilai 168 juta euro (sekitar 195 juta dolar AS). Bantuan ini setara dengan 8 persen dari produk domestik bruto (PDB) Ceuta, melengkapi komitmen sebelumnya sebesar 180 juta euro untuk pemulihan jangka menengah.

Ketegangan di Ceuta ini juga berbuntut pada kekhawatiran negara tetangga di kawasan Eropa. Italia bahkan memutuskan memperpanjang pengetatan pemeriksaan perbatasan terhadap para penumpang yang tiba dari Spanyol selama 15 hari ke depan guna mengantisipasi rembesan arus migran lintas batas.

 

Foto Lainnya

Spanyol Tepis Rumor Hubungan Tak Baik dengan Maroko Buntut Insiden Ceuta

Sebelumnya

Meneliti Kembali Krisis di Enklave Ceuta dan Melilla

Berikutnya

Artikel Olahraga