Hukum

Gerakan

KOMENTAR
post image

VIDEO singkat yang diproduksi tahun 2014 lalu kembali viral di Maroko. Kampanye untuk gerakan “Mashi Besmyti” atau “Bukan Atas Nama Saya” yang diproduksi di Inggris itu awalnya untuk mengecam kelompok teroris ISIS.

Ide utama video singkat itu adalah: ISIS merusak nama Islam.

Di dalam video itu beberapa warganegara Maroko berbicara menggunakan berbagai bahasa, Tamazight, Maroko, Darija, Inggris dan Prancis.

Partisipan yang ikut dalam kampanye membawa banner yang bertuliskan “Bukan Atas Nama Saya” dalam berbagai bahasa tadi.

Salah seorang diantaranya mengatakan bahwa Islam mengajarkan kejujuran dan kasih sayang. Sementara terorisme tidak memiliki agama.

Video ini kembali viral menyusul kasus pembunuhan dua turis wanita dari Denmark dan Norwegia, Maren Ueland and Louisa Vesterager Jespersen, di dekat Pegunungan Toubkal.

Pihak keamanan menemukan tubuh keduanya hari Senin (17/12) dengan luka di bagian leher. Pemerintah dan masyarakat Maroko mengecam keras aksi pembunuhan itu.

Hari Sabtu (22/12), warga Rabat berkumpul di depan Kedubes Denmark dan Norwegia untuk menyampaikan kecaman mereka atas pembunuhan kedua gadis remaja itu. Mereka datang membawa karangan bunga dan menyalakan lilin.

Masyarakat Maroko juga menggelar aksi serupa di Imlil, lokasi kejadian.

Seorang demonstran mengatakan, tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengharapkan kejadian itu. Masyarakat Maroko umumnya sangat terbuka dan ramah pada turis asing. Tidak sedikit yang mengundang turis untuk bermalam di rumah mereka.

Masyarakat Imlil, dan Maroko pada umumnya, dikatakan ikut merasakan dukacita atas kejadian ini.

Biro Pusat Invesitagasi Maroko (BJIC) telah menangkap 13 tersangka pembunuhan. Sementara kedua jenaah telah diserahkan ke kedubes masing-masing untuk dikembalikan ke rumah mereka. [SMC]


Foto Lainnya

Polisi Diwajibkan Kuasai Tiga Bahasa Asing

Sebelumnya

Pria Berkewarganegaraan Ganda Ditangkap Dalam Kasus Pembunuhan Dua Wanita Skandinavia

Berikutnya